Mencegah Kebocoran Atap
Dalam Arsitektur bali dikenal pembagian banguan atas 3 bagian yaitu kepala, badan dan kaki. Atap merupakan bagian kepala yang berfungsi sebagai pelindung
rumah dari panas dan hujan. Dinding berfungsi sebagai badan bangunan dan pondasi berfungsi berperan sebagai kaki bangunan. Fungsi atap ternyata dapat
memposisikannya sebagai komponen yang mendukung status sosial si pemilik
rumah. Semakin berkualitas atas yang digunakan, maka semakin baik pula
citra yang diperlihatkan. Oleh karena itu, tidak heran jika atap rumah
dapat diasosiasikan sebagai mahkota suatu bangunan. Namun, sebuah rumah
tidak akan terlihat cantik dengan sempurna jika ternyata atap rumah
gagal menjalankan fungsinya sebagai pelindung, terutama pada saat musim
hujan. Masalah kebocoran atap tidak pernah pilih-pilih. Setiap kalangan
masyarakat pernah merasakannya mulai dari skala kecil (rembes) hingga
skala besar (bocor). Oleh karena itu, jangan sampai penampilan rumah
Anda berbanding terbalik dengan sebenarnya terjadi di dalam rumah.
1. Akurasi Sudut Kemiringan Atap.
2. Minimalisasi Sambungan Atap.
5. Penggunaan Waterproofing.
Untuk
mencegah kebocoran pada atap, berikut ini adalah hal-hal yang perlu
diperhatikan:
1. Akurasi Sudut Kemiringan Atap.
Pastikan bahwa
Anda membuat sudut kemiringan yang tepat sehingga air mengalir ke tanah
dengan cepat. Sudut kemiringan yang ideal adalah 35- 40derajat. Akan
tetapi, ada berberapa jenis atap yang sudut kemiringannya dapat dibuat
lebih landai (terutama pada rumah model Limasan Klabang Nyander). Atap juga bisa lebih landai jika menggunakan penutup atap berupa asbes dan sejenisnya. Dalam
hal ini Anda harus jeli dalam memilih model genting sehingga aliran air
hujan tidak masuk melalui celah-celah antar genting. Atap juga dapat
direkatkan dengan paku agar tidak bergeser, yang nantinya dapat
memberikan akses masuk air hujan.
2. Minimalisasi Sambungan Atap.
Kebocoran ternyata
dapat ditimbulkan dari sambungan sehingga sambungan antar atap perlu
dikurangi. Hal tersebut perlu dilakukan karena setiap pertemuan atap
berpotensi menimbulkan kebocoran. Risiko kebocoran dapat dikurangi
dengan menggunakan atap bermodel pelana. Pada beberapa jenis gaya
arsitektur rumah tinggal, seperti rumah tradisional jawa yakni joglo,
terdapak sambungan struktur atap antara joglo dan rumah induk. Hal ini
memunculkan sambungan yang dikenal dengan talang datar yang berpotensi
menimbulkan kebocoran karena biasanya kemiringannya memiliki sudut yang
relif landai. Perlu penyesuaian sehingga air tetap dapat mengalir turun
dari atap dengan segera sehingga tidak memunculkan karat yang berakibat
pada keroposnya talang.
3. Pemilihan Atas Berkualitas.
Anda dapat memilih
atap berkualitas baik sehingga tidak mudah retak. Karakteristik atap
rumah yang berkualitas baik pada umumnya dapat dipasang dengan sempurna
tanpa terdapat celah. Anda dapat memilih material atap seperti dari
beton, keramik, PVC, bitumen, atau atap yang terbuat dari kombinasi
keramik dan beton.
4. Pemasangan Talang yang Tepat.
Talang berfungsi
untuk mengarahkan air hujan dari atap sehingga daapt turun ke tanah.
Pastikan bahwa talang dipasang dengan ukuran, kekuatan daya tamping dan
pemasangan yang tepat.
5. Penggunaan Waterproofing.
Waterproofing merupakan bahan pelapis yang kedap air. Aplikasi waterproofing dapat dilakukan dengan kuas, roller atau spray. Pastikan pengaplikasiannya perlu dibuat beberapa lapis sehingga dapat mencegah kebocoran. Hal yang diperhatikan saaat memilih bahan pelapis anti bocor :
- memiliki daya lentur (elastisitas) yang tinggi
- mampu menutup retak
- ramah lingkungan (tidak berbahaya)
- tahan lama dan mudah dalam aplikasinya





Komentar
Posting Komentar